Singkatan UMKM dan UKM

  • Berani
  • Okt 04, 2021
Singkatan UMKM dan UKM

Sering kali kita mendengar atau bahkan menyebut singkatan UMKM dan UKM tanpa mengetahui arti sebenarnya. Banyak orang beranggapan jika keduanya adalah sama, yaitu merujuk pada usaha kecil dan menengah.

UMKM sendiri adalah kependekan dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah, sedangkan kepanjangan dari UKM adalah Usaha Kecil dan Menengah. Untuk memudahkan, keduanya memiliki singkatan UMKM dan UKM. Lalu apakah keduanya berbeda atau sama? Mari kita simak penjelasannya!

Dasarnya singkatan UMKM dan UKM adalah berbeda!

Keduanya memiliki definisi masing-masing, namun masyarakat lebih suka menyebut UMKM  untuk mewakili semua jenis usaha yang sudah tercakup di dalamnya. Dalam peraturan sudah banyak yang menjelaskan mengenai perbedaan tiga bagian usaha, seperti usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah. Dilihat dari sisi pengelolaan, ketiga usaha tersebut dibina oleh pihak yang berbeda-beda.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yang mengatur mengenai UMKM, untuk usaha berskala mikro dibina oleh pihak kabupaten dan kota, sedangkan usaha kecil di bawah pemerintah provinsi dan usaha menengah mempunyai skala yang lebih luas yaitu berskala nasional.

Ditinjau dari segi legalitas dan lain-lain, usaha skala mikro biasanya milik perseorangan atau tidak berbadan hukum. Sedangkan untuk usaha menengah wajib memiliki legalitas atau badan hukum.

Perbedaan yang paling mendasar bisa kita lihat dari berbagai aspek, simak ulasannya berikut ini!

Perbedaan Kekayaan Bersih

Setiap jenis usaha tentunya memiliki kekayaan bersih yang berbeda-beda, hal ini sudah tertuang dalam undang-undang agar memudahkan bagi para pelaku usaha untuk mengklasifikasikan jenis usaha dan membuat perijinan.

Lantas, berapakah kekayaan dari masing-masing jenis usaha? Usaha mikro memiliki batas kekayaan bersih sekitar 50 juta rupiah atau kurang. Hal ini merujuk pada bisnis-bisnis rumahan.

Sedangkan untuk bisa dikatakan usaha kecil adalah memiliki batas kekayaan bersih lebih dari Rp50 juta sampai dengan Rp 500 juta. Kemudian yang terakhir, jika kekayaan bersih mencapai lebih dari Rp500 juta hingga Rp10 miliar sudah dikatakan sebagai usaha menengah.

Omzet yang dihasilkan

Omzet merupakan hasil pendapatan sebuah usaha dalam kurun waktu tertentu. Untuk usaha mikro ketentuan pendapatan setiap tahunya tidak lebih dari Rp300 juta.

Usaha kecil memiliki batasan omzet sekitar Rp 300 juta hingga Rp 2,5 miliar. Sedangkan usaha yang sudah memiliki omzet lebih dari Rp 2,5 miliar hingga Rp 50 miliar maka termasuk usaha menengah.

Bagi anda para pelaku usaha yang ingin meningkatkan omzet pendapatan, sudah saatnya untuk beralih dengan cara mendaftar UKM go online. dengan adanya perubahan tersebut, diharapkan UKM mampu bersaing di pasar digital.

Berdasarkan Jumlah Karyawan

Jumlah karyawan juga dapat menilai apakah suatu usaha dapat disebut sebagai unit UMKM atau tidak.

Jika sebuah usaha memiliki banyak karyawan, tentu saja usaha tersebut sudah besar dan tidak layak disebut sebagai usaha UMKM. Sebuah usaha kecil atau bahkan hanya skala rumahan, karyawan yang dipekerjakan kadang tidak lebih dari lima

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *