profil

Latar Belakang Koran Berani

Programme for International Student Assessment

Berdasarkan penelitian dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2003, dari 40 negara yang diteliti, kemampuan membaca anak-anak Indonesia usia 9 -14 tahun berada pada urutan terakhir, yaitu urutan ke-40. Hanya 30 persen dari isi bacaan yang mereka baca, dapat mereka pahami. Kemampuan membaca yang lemah ini disebabkan karena minat baca kebanyakan anak-anak Indonesia yang rendah.

Apa yang akan terjadi pada Indonesia, ketika anak-anak tersebut memasuki usia perguruan tinggi, dunia pekerjaan dan saat menjadi pemimpin bangsa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang kemudian ´memanggil´ kami untuk ikut bergabung bersama dengan sahabat-sahabat yang sudah lama menekuni usaha meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia .

Mengapa Surat Kabar Harian?

cover

Media cetak berupa suratkabar harian menjadi pilihan karena:

  • Dapat menyajikan berita dan memberi pemahaman mengenai kejadian dan peristiwa sehari-hari.
  • Dapat mengajak anak-anak untuk mencari berbagai keutamaan serta penalaran ´sebab dan akibat´ yang terdapat dalam kehidupan kongkrit manusia setiap hari.
  • Dapat mengembangkan anak sebagai pribadi yang utuh (yang hidup dalam dunia yang nyata dan kongkrit).



Koran Anak Berani

Peluncuran Berani

Koran BERANI terbit pertama kali pada tanggal 8 April 2006 . Ia terbit setiap hari dengan 16 halaman mulai dari hari Senin sampai dengan hari Jumat. Pada setiap terbitan selalu disajikan berita-berita terkini Nasional , Dunia , Liputan Tematis , Acara TV , Trend , Olahraga , dan Tokoh . Setiap Liputan Tematis selalu dikaitkan dengan kebutuhan kurikulum sekolah.

Saat ini koran BERANI telah masuk ke sekolah-sekolah di wilayah Jabodetabek, Bandung , Semarang , Yogyakarta , Surabaya , dan Malang . Untuk waktu mendatang, diharapkan koran BERANI dapat hadir di seluruh wilayah Nusantara.

BERANI sebagai satu-satunya koran anak di Indonesia , yang terbit setiap hari, menawarkan sebuah alternatif baru dalam pengembangan kemampuan membaca dari anak-anak.

Alternatif itu adalah, “membawa anak-anak melalui berita sehari-hari, yang ditulis dari sudut pandang mereka, menuju sebuah dunia dan cakrawala baru, yaitu menjadi warga negara yang lebih bertanggungjawab”.