“Jika India memiliki Bunda Theresa, Indonesia memiliki Gus Dur.” Begitulah sepatah kalimat yang diucapkan Romo Benny saat acara “Satu Juta Lilin Duka Lintas Iman untuk Gusdur”, Sabtu malam (2/1). Kepedulian Gus Dur kepada perbedaan yang ada di Indonesia membuat banyak kalangan mengangkat topi untuknya. Apa saja, ya, yang sudah dan sedang diperjuangkan Gus Dur selama hidupnya?
Gus Dur merupakan salah satu tokoh Indonesia yang cukup unik. Ia memang seorang pemuka agama. Masa kecilnya pun dihabiskan di lingkungan pesantren. Namun, Gus Dur tumbuh menjadi sosok yang sangat terbuka dan mau menerima perbedaan. Pengetahuannya tidak hanya berpusat pada satu agama saja, yaitu Islam, agama yang dianutnya. Ia juga mempelajari ajaran agama lain dan mengakui akan perbedaan-perbedaan tersebut.
Gus Dur adalah seorang pencinta damai. Seumur hidupnya, ia bercita-cita agar Indonesia mencapai kebhinekaan yang sebenarnya. Tidak ada lagi perpecahan dan konflik antarsuku, agama, dan ras. Maka, ia selalu menjaga hubungan baik dengan banyak tokoh agama Indonesia. Bersama mereka, Gus Dur sering melakukan diskusi bersama.
Gus Dur berusaha untuk menafsirkan ajaran Islam dalam konteks keindonesiaan. Ia ingin Islam di Indonesia disesuaikan dengan kebudayaan dan tradisi Indonesia. Masyarakat Indonesia terkenal dengan sikapnya yang ramah dan santun. Karena itu, ajaran Islam semestinya juga memiliki wajah yang ramah dan santun, sesuai dengan budaya bangsa Indonesia.
Kebijakan Politik
Dalam masa kepemimpinannya selama menjadi presiden, Gus Dur dikenal sebagai presiden yang “nyeleneh”. Pikiran terbukanya kadangkala disalahartikan oleh beberapa pihak. Seperti keinginannya untuk membuka hubungan dengan negara Israel. Bagi Gus Dur, Israel—yang sebagian besar warganya beragama Yahudi—juga salah satu saudara. Maka, seharusnya Indonesia menjaga tali silaturahmi dengan Israel.
Perayaan Tahun Baru China atau Imlek mulai kembali diselenggarakan pada masa pemerintahan Gus Dur. Gus Dur tidak pernah membeda-bedakan suku dan ras. Baginya, seluruh warga Indonesia adalah orang Indonesia. Jadi, mereka memiliki hak yang sama dalam hal apa pun, termasuk merayakan hari besar mereka. Selain itu, Gus Dur juga berperan besar dalam memperjuangkan keberadaan aliran Tao dan Konghucu. Baginya, semua bentuk aliran kepercayaan haruslah dihargai dan dihormati.
Perubahan Irian Jaya menjadi Papua pun berasal dari keputusannya. Gus Dur ingin memberikan penghargaan pada masyarakat Papua untuk menunjukkan identitas diri di antara pulau-pulau lain di Indonesia. Pengubahan nama tersebut diharapkan dapat mendorong anak-anak Papua untuk terus menggali potensi diri dan semakin bangga akan jati diri mereka.
Kebesaran hati dan sikap terbuka Gus Dur membuatnya dijuluki sebagai tokoh yang menganut pluralisme. Bahkan, Gus Dur pernah meminta, jika ia meninggal, ia tidak ingin disebut pahlawan nasional. Ia lebih suka jika orang-orang mengingatnya sebagai seorang humanis.